4 reaksi jahat dari antibiotik Kimia

antibiotik kimia
Ilustrasi antibiotik. ┬ęThinkstock photos/ Getty Images

Merdeka.com – Alergi atau reaksi hipersensitivitas antibiotik dapat terjadi pada obat apapun, dan alergi adalah salah satu efek samping yang paling umum terjadi. Reaksi alergi ringan mungkin hanya mengakibatkan ruam kulit. Tetapi, beberapa orang terkadang menunjukkan reaski alergi yang parah. Reaksi alergi yang parah disebut anafilaksis.
Ini dapat menyebabkan sesak napas, mengi, gatal-gatal, dan pembengkakan wajah, bibir atau lidah. Anafilaksis adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan perhatian medis segera. Selain itu, antibiotik juga dapat menyebabkan empat reaksi jahat berikut ini.
1. Diare karena Antibiotik
Diare karena antibiotik nbiasanya terjadi pada pasien yang menerima antibiotik, dan terjadi tanpa alasan yang jelas. Lima sampai dua puluh lima persen pasien dapat mengalami diare karena antibiotik yang diminumnya. Diare terjadi karena adanya pemberantasan flora usus normal sebagai efek dari antibiotik yang dikonsumsi. Hal ini juga menghasilkan pertumbuhan bakteri menular secara berlebih, seperti Clostridium dificile.
Jika diare parah, berdarah, atau disertai dengan kram perut dan muntah, kamu harus segera menghubungi dokter. Antibiotik yang paling sering menyebabkan diare adalah amoksisilin-klavulanat, ampisilin, dan cefixime. Namun, antibiotik lain dapat menyebabkan efek samping ini, termasuk sefalosporin, fluoroquinolones, azitromisin, klaritromisin, eritromisin, dan tetracycline.
2. Infeksi jamur vagina atau spesies candida
Kabar buruk lain yang datang dari Antibiotik adalah bahwa dia juga dapat mengubah keseimbangan flora normal dalam vagina. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan berlebih spesies jamur dalam vagina. Candida albicans adalah jamur yang umum biasanya hadir dalam jumlah kecil di vagina, mulut, saluran pencernaan, dan pada kulit. Jamur ini biasanya tidak menyebabkan penyakit ataupun gejala. Namun, pengobatan antibiotik dapat membuat jamur ini mengambil alih ketika ada persaingan terbatas dari bakteri.
3.Stevens Johnson Syndrome (SJS), Toxic Epidermal Necrolysis (TEN)
Sindrom Stevens-Johnson (SJS) dan nekrolisis epidermal toksik (TEN) adalah reaksi yang jarang terjadi. Namun, ini adalah jenis alergi serius terhadap zat dan obat yang menghasilkan gangguan kulit dan gangguan selaput lendir yang serius. Antibiotik seperti sulfonamid, penisilin, sefalosporin, dan fluoroquinolones dapat mengakibatkan SJS dan TEN. Kedua efek samping ini dapat menyebabkan ruam, kulit terkelupas, dan luka pada selaput lendir dan mungkin dapat mengancam keselamatan penderitanya.
4. Reaksi di tempat suntikan dan flebitis
Reaksi buruk terhadap antibiotik dapat terjadi jika antibiotik diberikan secara intravena dalam pembuluh darah. Suntikan reaksi situs dan flebitis (radang pembuluh darah) dapat terjadi karena antibiotik intravena (IV) yang diberikan. Pembuluh vena dan daerah yang terkena jarum intravena memungkinkan kulit merah, bengkak dan panas. Untuk mengatasi ini, biasanya jarum harus dicabut dan dimasukkan kembali di tempat lain untuk membantu membersihkan reaksi tempat suntikan tersebut.
Antibiotik digunakan untuk membunuh infeksi bakteri, sehingga tidak efektif untuk melawan infeksi virus, seperti pilek atau flu, atau terhadap infeksi jamur, seperti kurap dan infeksi jamur vagina. Nah, empat reaksi di atas adalah reaksi jahat yang bisa saja muncul akibat penggunaan antibiotik. Tetapi,sekali lagi ditegaskan bahwa ini tidak terjadi pada semua orang. Untuk menghindari reaksi jahat ini terjadi, konsultasikan penggunaan antibiotik dengan dokter sebelum kamu menggunakannya.

Ref: merdeka.com
Reporter : Siti Rutmawati | Jumat, 30 Oktober 2015 11:23